ILMU BUDAYA DASAR :
PUASA
NAMA :
ADITTYA EKA HIMAWAN
KELAS :
1IC01
NPM :
20415168
PUASA
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى
الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
" نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ
مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ ".
Artinya: “Abdullah bin Abi Aufa Al Aslami
radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan
dan amalannya dilipatkan (pahalanya-pent).”
Al Baihaqi rahimahullah berkata :
مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ ضَعِيفٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو
النَّخَعِيُّ أَضْعَفُ مِنْهُ
“Ma’ruf bin Hassan (salah satu perawi hadits ini)
adalah perawi yang lemah dan Sulaiman bin ‘Amr An Nakh’i lebih lemah darinya.”
Lihat kitab Syu’ab Al Iman, 5/423 (Syamela).
Al Munawi rahimahullah berkata:
وقال الحافظ العراقي : فيه سليمان النخعي أحد
الكذابين اه وأقول : فيه أيضا عبد الملك بن عمير أورده الذهبي في الضعفاء ، وقال
أحمد : مضطرب الحديث ، وقال ابن معين : مختلط ، وقال أبو حاتم : ليس بحافظ.
“Al Hafizh Al ‘Iraqi berkata: “Di dalam sanadnya
terdapat Sulaiman An Nakha’i, ia adalah salah satu tukang dusta, dan aku (Al
Munawi) berkata: “Di dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin ‘Umair disebutkan
oleh Adz Dzahabi di dalam kitab Adh Dhu’afa (kitab yang menyebutkan para perawi
lemah), dan Ahmad (bin Hambal) berkata: “Ia seorang yang guncang haditsnya”,
Ibnu Ma’in berkata: “Seorang perawi yang tercampur hapalannya”, Abu Hatim
berkata: “Bukan seorang yang hafizh (menjaga hadits).” Lihat kitab Faidh Al
Qadhir, 6/378 (Syamela).
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
rahimahullah berkata:
ضعيف
رواه أبو محمد بن صاعد في "مسند ابن أبي
أوفى" (120/ 2) ، والديلمي (4/ 93) ، والواحدي في "الوسيط" (1/ 65/
1) عن سليمان بن عمرو عن عبد الملك بن عمير عن ابن أبي أوفى مرفوعاً .
قلت : وهذا موضوع ؛ سليمان بن عمرو : هو أبو
داود النخعي ، وهو كذاب .
وقد تابعه أبو معاذ معروف بن حسان عن زياد
الأعلم عن عبد الملك بن عمير به . إلا أنه قال : "مضاعف" بدل :
"متقبل" . أخرجه ابن شاهين في "الترغيب" (ق 283/ 1) ، وابن
الحمامي في "جزء منتخب من مسموعاته" (ق 35/ 2) ، والسلفي في "أحاديث
منتخبة" (133/ 1) .
قلت : ومعروف هذا ؛ أورده الذهبي في
"الضعفاء" ، وقال : "قال ابن عدي : منكر الحديث" .
وقد وجدت له شاهداً من حديث ابن مسعود
مرفوعاً به ، دون الجملة الأخيرة منه . أخرجه أبو نعيم في "الحلية" (5/
83) من طريق جعفر بن أحمد بن بهرام, قال : حدثنا علي بن الحسن عن أبي طيبة عن كرز
بن وبرة عن الربيع بن خثيم عنه .
قلت : وهذا إسناد ضعيف ؛ كرز بن وبرة رجل
صالح ، لا أعرف حاله في الحديث ، ترجم له أبو نعيم في "الحلية" (5/
79-83) ؛ وأظن أن له ترجمة مطولة في "تاريخ جرجان" للسهمي ؛ فليراجع.
وأبو طيبة : اسمه عبد الله بن مسلم المروزي :
ضعيف . ومن دونه ؛ لم أعرفهما .
وقد روي بلفظ : "نوم الصائم عبادة ،
ونفسه تسبيح" .
رواه الجرجاني (328) : أخبرنا أبو ذر إبراهيم
بن إسحاق بن إبراهيم الضبابي - بالكوفة في بني كاهل ، عند مسجد الأعمش - : حدثنا
جعفر بن محمد النيسابوري : حدثنا علي بن سلمة العامري : حدثنا محمد بن جعفر بن
محمد ابن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب : حدثني أبي عن أبيه مرفوعاً .
قلت : وهذا إسناد مظلم ؛ فإنه - مع إعضاله -
واه ؛ محمد بن جعفر تكلم فيه . ومن دونه - بإستثناء أبي ذر - ؛ لم أعرفهما .
Derajat Hadits: lemah
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sha’id di dalam
Musnad Ibnu Abi Aufa (2/120), Ad Dailami 4/93) dan Al Wahidi di dalam kitab “Al
Wasith” (1/65/1) dari Sulaiam bin ‘Amr dari Abdul Malik bin ‘Umair dari
Abdullah bin Abi Aufa.
Saya (Al Albani) berkata: “Dan ini adalah riwayat
yang palsu, Sulaiman bin ‘Amr ia adalah Abu Daud An Nakh’i dan ia adalah
seorang yang tukang dusta.
Riwayat ini telah diikuti oleh Abu Mu’adz Ma’ruf
bin Hassan dari Ziyad Al A’lam dari Abdul Malik bin ‘Umair dengan lafazh ini,
kecuali ia mengucapkan: “(Amalannya) dilipatkan gantian dari “(amalannya)
diterima”. Diriwayatakan oleh Ibnu Syahin di dalam kitab “At Targhib” ( ق1/128)
dan Ibnu Al hammami di dalam “Juz min Masmu’atih” (ق 2/35) dan as Salafi di
dalam kitab “Ahadits Muntakhibah” (1/133) .
Saya (Al Albani) berkata: “Dan Ma’ruf ini
disebutkan oleh Adz DZahabi di dalam kitab Adh Dhu’afa, Adz Dzahabi berkata:
“Ibnu “adi berkata: “perawi yang haditsnya mungkar.”
Dan aku mendapati penguat yang lain dari hadits
Ibnu Mas’ud secara marfu’ tanpa menyebutkan kalimat yang terakhir,
diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Hilyat Al Awliya’, 5/83, dari jalan
Ja’far bin Ahmad bin Bahram, ia berkata: “Telah meriwayatkan kepada kami Ali
bin Al Hasan, dari Abu Thayyibah dari Kurz bin Wabrah, dari Ar Rabi’ bin Khutsaim,
dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Saya (Al Albani) berkata: “di dalam sanad hadits
ini kelemahan, Kurz bin Wabrah adalah seoran orang yang shalih (hapalannya
cenderung lemah tetapi tidak mengapa mengambil haditsnya jika ada penguatnya),
saya tidak mengetahui keadaannya di dalam periwayatan hadits.” Dan telah
disebutkan biografinya oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Hilyat (5/79-83) dan aku
mengira ia memiliki bigrafi yang panjang ditulis di dalam kitab sejarah Jurjan,
karya As Sahmi, silahkan cek kembali.
Dan Abu Thayyibah namanya adalah Muslim bin
Abdullah Al Marwazi dan ia adalah perawi yang lemah, adapun orang tebelumnya
saya tidak mengetahui mereka berdua.
Dan telah diriwayatkan dengan lafazh: “Tidurnya
orang puasa adalah ibadah dan nafasnya adalah tasbih”
Diriwayatkan oleh Al Jurjani (no. 328): “Telah
memberitahukan kepada kami Abu Dzarr Ibrahim bin Ishaq bin Ibrahim Adh Dhababi,
di daerah Kufah tentang Bani Kahil, pada masjid Al A’masy: “ Telah meriwayatkan
kepada kami Ja’far bin Muhammad An Naisaburi, ia berkata: “Telah meriwayatkan
kepada kami Ali bin Salamah al “a,miri, ia berkata: “Telah meriwayatkan kepada
kami Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi
Thalib, ia berkata: “Telah meriwayatkan kepadaku bapakku dari bapakknya secara
marfu’.”
Saya (al Albani berkata): “Dan Sand hadits ini
adalah gelap, karena ia bersamaan dengan mu’dhalnya juga terdaoat perawi yang
wahin (keliru); Muhammad bin Ja’far dibicarakan (para ulam hadits) tentang
(kelemahan)nya dan sebelumnya selain Abu Dzarr saya tidak mengenal mereka
berdua.” Lihat kitab Sil Silat Al Ahadits Adh Dha’ifah, no. 4696.