![]() |
cut nyak dien
A.
Pendahuluan
Aceh merupakan salah satu wilayah Indonesia
yang letaknya di bagian paling barat. Masa penjajahan Belanda terhadap Aceh
mendatangkan dampak yang sangat merugikan. Wilayah Aceh sangat ingin dikuasai
oleh Belanda dan kemudian pada tahun 1873 Belanda menyerang Aceh. Namun, di
Aceh memiliki para Pahlawan yang siap menjaga dan mempertahankan wilayahnya
dari serbuan Belanda. Sebut saja Cut Nyak Dhien yaitu istri dari salah satu
pahlawan Nasional juga yang bernama Teuku Umar ia adalah seorang Pahlawan
wanita yang gagah berani melawan kolonialisme Belanda terhadap Aceh sehingga
Belanda pun banyak menghabiskan uang yang banyak hanya untuk berperang melawan
Cut Nyak Dhien. Ia adalah seorang wanita keturunan Bangsawan yang taat beragama
ia juga masih keturunan Minangkabau. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah
anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh
orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan
yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).
Pengetahuan tentang rumah tangga seperti memasak, cara menghadapi atau melayani
suami, serta hal lain tentang tata kehidupan berumahtangga didapatkan dari
ibunya dan kerabat orangtua perempuan tersebut. Karena didikan tersebut, Cut Nyak
Dhien mempunyai sifat-sifat yang tabah, lembut dan tawakal. Karena
perjuangannya melawan Belanda beserta para pahlawan lainnya ia dikenal sebagai
Pahlawan Nasional. Perjuangannya tidak akan pernah dilupakan sampai kapanpun
oleh bangsa Indonesia khususnya daerah Aceh. Dalam makalah ini kami mencoba
menggambarkan bagaimana perjuangan Cut Nyak Dhien melawan Belanda.
B. Latar Belakang Keluarga
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga
bangsawan yang taat beragama di Lampadang, wilayah VI Mukim pada
tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia,
seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati,
perantau dari Sumatera Barat. Machmoed Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke
18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.
Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau. Ibu
Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah
anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh
orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan
yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).
Pengetahuan tentang rumah tangga seperti memasak, cara menghadapi atau melayani
suami, serta hal lain tentang tata kehidupan berumahtangga didapatkan dari
ibunya dan kerabat orangtua perempuan tersebut. Karena didikan tersebut, Cut
Nyak Dhien mempunyai sifat-sifat yang tabah, lembut dan tawakal.
Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak
Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh
orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga,
putra dari Teuku Po Amat uleebalang Lamnga XIII mukim Tungkop, Sagi XXVI mukim
Aceh besar. Teuku Ibrahim anak seorang uleebalang, tetapi juga disebabkan
seorang pemuda yang taat agama, berpandangan luas, seorang alim yang memperoleh
pendidikan dari Dayah Bitay. Mereka memiliki satu anak laki-laki.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara
meriah, Teuku Nanta mendatangkan penyair terkenal Do Karim untuk membawakan
syairnya dihadapan para undangan, syair-syair yang dibawakan mengandung
ajaran-ajaran agama yang sangat berguna bagi pegangan hidup. Setelah Cut Nyak
Dhien dan Teuku Ibrahim merasa sudah cukup siap mandiri membiayai rumah
tangganya, mereka pindah rumah yang telah disediakan oleh Teuku Nanta.[1][1]
C. Belanda Menyerang Aceh
Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda
menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan
Aceh dari kapal perang Citdadel van Antwerpen. Perang Aceh meletus. Perang
Aceh 1 (1873-1874), yang dipimpin oleh Panglima
Polem dan Sultan Machmud Syah melawan
Belanda yang dipimpin Kohler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit. Lalu,
pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen dibawah
pimpinan Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan
membakarnya.[2][2]
Kesultanan Aceh dapat
memenangkan perang ini. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali
dengan sorak kemenangan, sementara Kohler tewas tertembak pada
April 1873.
Pada tahun 1874-1880, dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten,
daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh
pada tahun 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu
dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Suaminya selanjutnya
bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim.
Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29
Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan
menghancurkan Belanda.
Selama berkecamuknya peperangan, Teuku Chik
Ibrahim meninggalkan Cut Nyak Dhien di Lampadang untuk berjuang. Oleh karena
itu, Teuku Ibrahim jarang berada dirumah. Bersama Teuku Imum Leungbata maju
keperbatasan VI mukim dan berusahan menaklukkan Meuraksa. Belanda semakin
gencar untuk menundukkan daerah lainnya di luar Keraton dan Mesjid Raya.
Pasukan Belanda bergerak terus menuju wilayah
IX mukim dan pasti akan menuju ke VI mukim, berbulan-bulan Teuku Chik Ibrahim
tidak bertemu Cut Nyak Dhien. Kedatangannya ingin mengabarkan kepada Cut Nyak
Dhien dan rakyat VI mukim harus meninggalkan Lampadang dan mengungsi ke tempat
yang lebih aman dan menyiapkan bekal yang cukup untuk melakukan perjalanan yang
panjang. Pada tanggal 29 desember 1875, rombongan Cut Nyak Dhien meninggalkan
Lampadang.
Pasukan Teuku Nanta dan Teuku Ibrahim yang
bermaksud mempertahankan VI mukim akhirnya harus menyingkir akibat serangan
Belanda yang dipimpin oleh Van der Hayden. Akhirnya, daerah VI mukim berhasil
dikuaisai kolonial. Pada tanggal 29 juni 1878, dalam suatu pertempuran di
Lembah Beurandeun Gle Tarum, kemukiman Montasik, Sagi
XXII Mukim, Teuku Ibrahim dan beberapa pengikutnya syahid
Kekecewaan dan kesedihan sebagai akibat
ditinggal suaminya dan darah kepahlawanan yang mengalir dari keluarganya
menjadi dasar kuat bagi Cut Nyak Dhien, bahkan ia pernah berjanji akan bersedia
kawin dengan laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut bela terhadap
kematian suaminya. Adalah suatu hal yang tepat bila kemudian datang seorang
laki-laki yang bersedia membantu Cut Nyak Dhien membalaskan dendam kepada
Belanda, setelah bertahun-tahun menjanda, ia dipinang oleh Teuku Umar yang
kebetulan adalah cucu dari kakek Cut Nyak Dhien sendiri.
Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh,
melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, namun, karena
Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak
Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880.
Hal ini membuat meningkatnya moral semangat perjuangan Aceh melawan Kapke Ulanda (Belanda
Kafir). Nantinya, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar memiliki anak yang bernama Cut
Gambang.
Bersatunya dua kesatria ini mengobarkan
kembali semangat juang rakyat Aceh. Kekuatan yang telah terpecah kembali
dipersatukan. Belanda di Kutaraja mendengar pernikahan antara Teuku Umar dan
Cut Nyak Dhien. Uleebalang yang memihak Belanda merasa kecut juga mendengar
pernikahan mereka , adapun Tgk Chik di Tiro dan kawan-kawan seperjuangannya
amat mendukung pernikahan mereka.
Bukti dari ampuhnya persatuan kedua pejuang
Aceh ini adalah dapat direbut kembali wilayah VI mukim dari tangan Belanda. Cut
Nyak Dhien dapat pulang lagi ke kampung halamannya, pada saat itu Teuku Nanta
sudah sangat tua, oleh karena itu, Cut Rayut diangkat menjadi uleebalang
pengganti Teuku Nanta. Namun sesungguhnya pengangkatan itu hanya sekedar
kamuflase saja.
Dengan
diangkatnya Cut Rayut menjadi uleebalang, Cut Nyak Dhien akan bebas menjalankan
politik dalam perjuangan Aceh. Cut Nyak Dhien kembali membangun rumah tangganya
di Lampisang. Rumah ini menjadi markas pertemuan para tokoh pejuang dan alim
ulama yang mengorbankan semangat jihad fisabilillah.
E.
Perlawanan Teuku Umar Terhadap Belanda
Taktik Teuku Umar didalam peperangan
menghadapi Belanda tergolong aneh bagi orang lain dan juga Cut Nyak Dhien
sendiri. Ia pernah membantu Belanda atas permintaan Gubernur Aceh Loging
Tobias, untuk membebaskan Kapal Inggris yang terdampar, kemudian disita oleh
Teuku Imam Muda Raja Tenom. Namun pada saat itu terjadi penyerangan terhadap
awak kapal yang dilakukan oleh pejuang Teuku Umar. Setelah peristiwa itu, Teuku
Umar kembali ke Lampisang dan tidak mau lagi bekerja sama dengan Belanda.
Tetapi rakyat Aceh tidak langsung percaya Teuku Umar, persoalan ini selesai
setelah Kapal Nisiero baru diselesaikan setelah Belanda membayar tebusan
sebesar 100.000 dolar kepada Raja Teunom
Perang dilanjutkan secara gerilya dan
dikobarkan perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan
gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin
kuat. Pada tanggal 14 juni 1886 Teuku Umar kembali mengadakan serangan terhadap
kapal Hok Canton, kapal ini berlabuh di pantai Rigaih. Waktu itu Hansen beserta
istrinya dan juru mudi Faya ditawan, karena Hansen meniggal, maka istrinya dan
Faya dibawa ke gunung. Belanda berusaha untuk mencari kontak dengan Teuku Umar,
tetapi tidak ada hasilnya. Sekali lagi Gubernur Belanda memberikan tebusan
25.000 kepada Teuku Umar, uang itu dibagi-bagikan kepada rakyat Aceh. Pada
tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang
pergi keKutaraja dan menyerahkan diri
kepada Belanda untuk menipu orang Belanda, sehingga saat mereka keluar dari
hutan mereka berkata:
Mereka menyadari mereka telah melakukan hal
yang salah, sehingga mereka ingin membayar kembali kepada Belanda dengan
menolong mereka menghancurkan perlawanan Aceh
Teuku
Umar bersedia untuk mengamankan Aceh dan Belanda memberikan senjata yang
lengkap kepada pasukannya untuk menjalankan misinya mengamankan Aceh. Teuku
Umar diberikan tanggung jawab panglima dan diberikan gelar Teuku Umar Johan
Pahlawan. Rumahnya di Lampisang dibangun oelh pemerintahan Belanda. Bentuknya
disesuaikan denga bentuk rumah pejabat Belanda dan dihiasi taman serta
diberikan fasilitas yang memadai. Teuku umar kemudian menjalankan tugas dari
Belanda untuk merebut daerah-daerah yang masih dikuasai oleh pejuang Aceh
Belanda sangat senang karena musuh yang
berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar
Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komander unit pasukan Belanda dan
kekuasaan penuh. Ia menyimpan rencana ini sebagai rahasia, walaupun dituduh
sebagai penghianat oleh orang Aceh, bahkan, Cut Nyak Meutia datang menemui Cut
Nyak Dhien dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan
Belanda, namun, ia masih terus berhubungan dengan Belanda. Teuku Umar mencoba
untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak
mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai menjadi unit Belanda yang
merupakan gerilyawan Aceh. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut
cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim
bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.
Namun ternyata perjuangan itu hanya bersifat
sandiwara saja bersama Cut Nyak Dhien dan pada tanggal 29 maret 1896 ia kembali
membawa pasukannya untuk kembali dengan masyarakat Aceh dan membawa
persenjataan yang lengkap yang merupakan hasil curian dari Belanda. Teuku Umar
dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata,
dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali.
Penghianatan ini disebut Het verraad van
Teukoe Oemar (penghianatan Teuku Umar). Mengetahui pengkhianatan yang dilakukan
Teuku Umar, Belanda mencabut jabatan sebagai panglima perang, gelar kebesaran
Johan Pahlawan dan menyatakan perang terhadap Teuku Umar. Rumahnya di Lampisang
dibakar dan dihancurkan oleh Belanda.
Teuku Umar yang menghianati Belanda
menyebabkan Belanda marah dan meluncurkan operasi besar-besaran untuk menangkap
baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Namun, gerilyawan kini dilengkapi
perlengkapan terbaik dari Belanda dan mengembalikan identitasnya menjadi
pasukan gerilyawan. Mereka mulai menyerang Belanda sementara jendral Van
Swieten diganti. Penggantinya, jendral Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan
Belanda berada pada kekacauan untuk pertama kalinya. Selain itu, Belanda
mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, dan juga mengejar
keberadaannya.
Dien dan Umar menekan Belanda dan menduduki
Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar) dan Belanda
terus-terusan mengganti jendral yang bertugas. Pasukan gerilyawan kuat yang
dilatih dan dibuat dan memimpin hal ini sukses. Sejarah yang mengerikan bagi
orang Belanda terus terjadi, tetapi, jendral Van Der Heyden ditugaskan
dan tidak pernah dilupakan oleh orang Aceh. Pembantaian yang berdarah dilakukan
terhadap laki-laki, wanita dan anak-anak pada desa, ketika jendral Van Der
Heyden masuk kedalam unit "De Marsose". Mereka dianggap biadab oleh
orang Aceh dan sangat sulit ditaklukan, selain itu, kebanyakan pasukan "De
Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada
di jalannya, termasuk rumah dan orang-orang. Akibat dari hal ini, pasukan
Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van Der Heyden membubarkan unit
"De Marsose". Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral
selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan Jihad kehilangan
nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.
Jendral Van Heutz memanfaatkan ketakutan ini
dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai
informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh
pada tanggal 11 Februari 1899, dan akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.
Hal ini diketahui karena diinformasikan oleh informan yang bernama Teuku
Leubeh. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien mendengar kematian ayahnya, ia
ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya dan Dien berkata:
Sebagai
wanita Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah
"Shaheed" yang
senantiasa membakar semangat juang masyarakat Aceh.
F.
Perlawanan Cut Nyak Dhien Terhadap Belanda
Ribuan tentara Belanda tewas dan jutaan uang
dihabiskan demi mengejar Cut Nyak Dhien. Tokoh tokoh yang membantu perjuangan
Cut Nyak Dhien diantaranya adalah Teuku Ali Baet menantunya yang memberikan
uang dan senjata kepada rombongan. Ada pula Teuku Raja Nanta, adik Cut Nyak
Dhien yang sempat berpisah dari rombongan karena kejaran Belanda, dan akhirnya
syahid di pedalaman Meulaboh. Pada saat itu pula .terjadi perlawanan oleh
Sultan Muhamammad Daud Syah dan Panglima Polim yang berjuang di daerah Pidie.
Dalam perjuangan grilyanya, pendukung setia Cut Nyak Dhien selalu menjaga siang
malam dan berpindah dari satu Dalam perjuangannya, Cut Nyak Dhien dibantu oleh
para uleebalang, datuk-datuk, serta penyair-penyair tempat ke tempat yang lain
untuk menghindari penggerebekan yang dilakukan Belanda yang tidak lain adalah
imbas dari pelaporan para pengkhianat yang memberitahukan dimana posisi
rombongan Cut Nyak Dhien.
Akibat kematian suaminya, Cut Nyak Dien
memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama
pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur
sampai kehancurannya pada tahun 1901 dan berisi laki-laki dan wanita karena
tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh, selain itu, Cut
Nyak Dien semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok
dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulitnya memperoleh makanan.
Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya, termasuk salah satu pasukannya
bernama Pang Laot Ali yang
melaporkan lokasi markas Cut Nyak Dien pada Belanda karena iba, selain itu,
agar Belanda mau memberinya perawatan medis dan membawa Belanda ke markas Cut
Nyak Dhien di Beutong Le Sageu.
G.
Pembuangan Cut Nyak Dhien Ke Sumedang
Ada 2 Kapten Belanda yang menjabat saat
perjuangan Cut Nyak Dhien, yaitu Van Heutz dan Van Dalen. Selama Van Heutz
memimpin penjajahan (1898-1904), rakyat Aceh menderita korban sebanyak 20.600
orang. Pada tanggal 8 februari 1904 Van Dalen melakukan perjalanan panjang
selama 163 hari kepedalaman Aceh, ia disertai 10 brigade marsose. Tujuannya
adalah untuk menumpas habis perlawanan Aceh yang masih aktif di tanah Gayo
(Aceh tengah dan Aceh tenggara).
Karena pengejaran habis-habisan tersebut,
ruang gerak rombongan Cut Nyak Dhien tedesak, baik dari segi material senjata,
bahan makanan yang tersedia, mental berjuang yang semakin kendur, serta fisik
yang mulai menurun dikarenakan berbagai faktor yang membuat Cut Nyak Dhien
menjadi sakit-sakitan dan terkadang dipapah saat melakukan perpindahan dari
satu gubuk ke gubug yang lain.
Kondisi ini membuat Pang Laot, salah seorang
pengikut setia Cut Nyak Dhien mengusulkan kepada Cut Nyak Dhien untuk
menghentikan perlawanan dan menjaga kesehatannya dalam perawatan Belanda, namun
Cut Nyak Dhien meresponnya dengan kemarahan sambil mengeluarkan perkataan:
“lebih baik aku mati di rimba daripada menyerah kepada kafir Kompeni”.
Namun, dengan berat hati, Pang Laot akhirnya
menyerahkan diri kepada Belanda dan memberitahukan kepada Belanda di mana
keberadaan Cut Nyak Dhien, dengan perundingan kepada Jendral Van Nuuren bahwa
Cut Nyak Dhien akan dirawat sebagai seorang Pahlawan dan tidak akan dijauhkan
dari masyarakat Aceh yang dicintainya. Perundingan ini disetujui oleh jendral Van
Veltman Atas kesepakatan itu, pada tanggak 23 Oktober 1905, Van Veltman
mengerahkan pasukannya sebanyak 6 brigade (120 bayonet) ke daerah Pameue.
Terjadi perlawanan dari para pengikut Cut Nyak Dhien, namun jumlah serdadu yang
sangat minim membuat pasukan Aceh yang dipimpin Panglima Habib Panjang kalah,
dan sang Panglimai pun syahid ketika hendak menyelamatkan anak buahnya.
Cut Nyak Dhien dikejar sampai ke daerah
Beutong, namun sekali lagi paukan Aceh berhasil melarikan diri dengan jumlah
yang sangat sedikit untuk melindungi Cut Nyak Dhien. Pada tanggal 7 november
1905, seorang anak kecil kurir Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap oleh pang Laot
dan dimintai keterangannya tentang keberadaan Cut Nyak Dhien. Berita itu
membuat jendral Van Veltmen langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak.
Akhirnya pencarian pun berakhir, Cut Nyak Dhien ditemukan, namun Cut Gambang
putri Cut Nyak Dhien berhasil melarikan diri dengan lukak di dadanya. Pada saat
ditangkap, Cut Nyak Dhien tidak mampu menahan emosinya kepada Pang Laot, Cut
Nyak Dhien melontarkan sumpah serapah baik kepada Pang Laot, maupun kepada
Belanda yang pada saat itu memperlihatkan sikap hormat.
Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang
Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda sehingga Belanda menyerang
markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur
mati-matian, dan Pang Karim, pasukannya berkata akan menjadi orang terakhir
yang melindungi Dien sampai kematiannya. Akibat Cut Nyak Dhien memiliki
penyakit rabun, ia tertangkap dan ia mengambil rencong dan mencoba untuk
melawan musuh, namun aksinya berhasil dihentikan oleh Belanda. Ia ditangkap dan
dibawa ke Banda Aceh. Ia dipindah ke Sumedang berdasarkan Surat Keputusan No 23
(Kolonial Verslag 1907 : 12). Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan
dan ia terus melanjutkan perlawanan yang sudah dilakukan ayah dan ibunya.
Setelah
ia ditangkap, ia dibawa ke Banda Aceh dan dirawat disitu. Penyakitnya seperti
rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Belanda takut bahwa kehadirannya akan
membuat semangat perlawanan, selain itu karena terus berhubungan dengan pejuang
yang belum tunduk, akhirnya Belanda kesal, jadi ia dibuang ke Sumedang, Jawa
Barat.
Untuk beberapa saat, Cut Nyak Dhien
diperlakukan sebagai seorang Pahlawan oleh Belanda, diberika fasilitas dan
pelayanan yang baik. Namun rasa simpati dari rakyat tidak pernah hilang kepada
Cut Nyak Dhie, membuat Cut Nyak Dhien sering dikunjungi oleh para masyarakat.
Keadaan ini membuat Van Daalen selaku Gubernur Belanda merasa cemas dan mengusulkan
untuk mengasingkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang agar jauh dari rakyat Aceh.
Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan
politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja, selain itu, tahanan
laki-laki juga mendemonstrasikan perhatian pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara
Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Sampai kematiannya, masyarakat
Sumedang tidak tahu siapa Cut Nyak Dhien yang mereka sebut "Ibu
Perbu" (Ratu). Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari
bahwa Cut Nyak Dhien yang tidak dapat bicara bahasanya merupakan sarjana Islam,
sehingga ia disebut Ibu Perbu. Ia mengajar Al-Quran di Sumedang sampai
kematiannya pada tanggal 8 November 1908. Saat Sumedang sudah beralih generasi
dan gelar Ibu Perbu telah hilang pada tahun 1960-an, dari keterangan dari
pemerintah Belanda, diketahui bahwa perempuan tersebut merupakan pahlawan dari
Aceh yang diasingkan berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag
1907 : 12).
H.
Wafatnya Cut Nyak dhien
Setelah
ia dipindah ke Sumedang, pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal
karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada
tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat
itu, Ali Hasan. Pada tahun 1960, orang
lokal Sumedang yang mencari tahu kembali siapakah "Ibu Perbu", telah
meninggal, namun, informasi datang dari surat resmi pemerintah Belanda
pada "Nederland
Indische", ditulis oleh Kolonial Verslag, bahwa
"Ibu Perbu", pemimpin pemberontakan provinsi Aceh telah dibuang di
Sumedang, Jawa Barat. Hanya terdapat satu tahanan politik wanita Aceh yang
dikirim ke Sumedang, sehingga disadari bahwa Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dhien,
"Ratu Jihad" dan diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei
1964.[3][3]
Menurut penjaga makam, makam Cut Nyak Dhien
baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh, Ali Hasan.
Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda. Masyarakat Aceh
di Sumedang sering menggelar acara sarasehan, dan pada acara tersebut, peserta
berziarah ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak sekitar dua kilometer. Menurut
pengurus makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung sering menggelar acara
tahunan dan melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran, selain itu, orang
Aceh dari Jakarta melakukan acara Haul setiap bulan November
Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar
pada 1987 dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di dekat pintu masuk
yang tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani Ibrahim Hasan,
Gubernur Daerah Istimewa Aceh di Sumedang tanggal 7 Desember 1987. Makam Cut
Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beson dengan luas 1.500
m2. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat
banyak batu nissan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama besar dari
Sumedang yang pernah dibuang ke Ambon yang bernama H. Sanusi, dan juga keluarga
H. Sanusi merupakan pemilik tanah kompleks makam Cut Nyak Dhien.
Pada batu nissan Cut Nyak Dhien, tertulis
riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surat At Taubah dan Al Fajar serta
hikayat cerita Aceh.
Gerakan Aceh Merdeka melakukan perlawanan di
Aceh untuk merdeka dari Republik Indonesia sehingga mengurangi jumlah peziarah
ke makam Cut Nyak Dhien, selain itu, daerah makam ini sepi akibat sering
diawasi oleh aparat, bahkan tidak ada yang tahu letak makam Cut Nyak Dhien
berada di Gunung Puyuh.
Kini,
makam ini mendapat biaya perawatan dari kotak amal di daerah makam karena
pemerintah Sumedang tidak memberikan dana
I.
Penutup
Kesimpulan
Cut Nyak Dhien adalah salah satu pejuang wanita dari
tanah rencong atau Aceh yang memperjuangkan Aceh dari serbuan Belanda. Cut Nyak
Dhien adalah wanita yang taat beragama karena sejak kecil ia sudah dididik oleh
keluargannya yang memang keturunan bangsawan. Pada tahun 1873 Belanda menyerang
Aceh dan dimulailah perang Aceh I dengan Aceh dipimpin oleh Sultan Machmud
melawan Belanda yang dipimpin oleh Koler. Pada saat itu kesultanan Aceh
memenangkan peperangan dengan tewasnya Koler. Teuku
Umar,
tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien
menolak, namun, karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur dalam
medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku
Umar pada tahun 1880. Banyak perjuangan yang dilakukan Cut Nyak Dhien bersama
suaminya Teuku Umar dalam memerangi Belanda. Ketika Teuku Umar meninggal, Cut
Nyak Dhien pun memimpin pasukan Aceh melawan Belanda. Belanda pun dibuat pusing
oleh Cut Nyak Dhien sehingga untuk mengejar Cut Nyak Dhien Belanda banyak
mengeluarkan uang dan tenaga sehingga banyak pasukannya yang tewas.
Cut Nyak Dhien meninggal karena
usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun
1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat
itu, Ali Hasan. Pada tahun 1960, orang
lokal Sumedang yang mencari tahu kembali siapakah "Ibu Perbu", telah
meninggal, namun, informasi datang dari surat resmi pemerintah Belanda
pada "Nederland
Indische", ditulis oleh Kolonial Verslag, bahwa
"Ibu Perbu", pemimpin pemberontakan provinsi Aceh telah dibuang di
Sumedang, Jawa Barat. Hanya terdapat satu tahanan politik wanita Aceh yang
dikirim ke Sumedang, sehingga disadari bahwa Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dhien,
"Ratu Jihad" dan diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei
1964.
DAFTAR PUSTAKA
Muchtaruddin, Ibrahim, Cut Nyak Dhien.
Jakarta: Balai Pustaka. 2001.
Mansur.s. Amhadi, Api
Sejarah. Jakarta : Salamandani Pustaka. 2009
Soetrisno Eddy, 100 Pahlawan Nasional 1 dan Sejarah
Perjuangan. Jakarta: Ladang Pustaka dan Inti Media. 2001
http://hamlybloger.blogspot.co.id/2011/11/cut-nyak-dien.html

No comments:
Post a Comment