Thursday, April 27, 2017

Sejarah Perjuangan Indonesia di
Museum Fatahillah




  
A.    Sejarah Museum Fatahillah

Museum Fatahillah adalah salah satu bangunan gedung peninggalan Era penjajahan Belanda, Selain itu gedung ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang merupakan saksi bisu perjuangan bangsa kita meraih kemerdekaan. Museum yang terletak pada wilayah Jakarta pusat ini, memang memiliki ketertarikan tersendiri. Selain letaknya pada pusat kota, museum ini juga menyimpan sejarah pada masa penjajahan Belanda di tanah air khususnya di Jakarta.
Pada awalnya sejarah museum fatahillah merupakan bangunan kolonial Belanda yang dipergunakan sebagai balai kota.  Peresmian gedung dilakukan pada tanggal 27 April 1626, oleh Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) dan membangun gedung balai kota baru yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan lain, yaitu pada Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Gedung yang dipergunakan sebagai Balaikota ini, juga memiliki fungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja (College van Scheppen). Kemudian sekitar tahun 1925-1942,  gedung tersebut  juga digunakan untuk mengatur sistem Pemerintahan pada Provinsi Jawa Barat. Kemudian  tahun 1942-1945, difungsikan sebagai  kantor tempat pengumpulan logistik Dai Nippon.

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649, luas penjara hanya sekitar 4x4 meter dengan tinggi hanya 1 meter, jadi setiap tahanan tidak bisa berdiri di dalam sel.



Kemudian sekitar tahun 1919 untuk memperingati berdirinya batavia ke 300 tahun, warga kota Batavia khususnya para orang Belanda mulai tertarik untuk membuat sejarah tentang kota Batavia. Lalu pada tahun 1930, didirikanlah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala hal tentang sejarah kota Batavia. Tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942), dan dibuka untuk umum pada tahun 1939.. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974.


B.   Bagian-bagian Museum Fatahillah

Museum Fatahillah berdasarkan pembentukannya hingga bisa kita kunjungi sampai sekarang ini, menyimpan sisa penjajahan di dalamnya. Terbentuk menjadi dua lantai dengan ruang bawah tanah ini, berisikan banyak peninggalan bersejarah yaitu :
  • Lantai bawah : Berisikan peninggalan VOC seperti patung, keramik-keramik barang kerajinan seperti prasasti, gerabah, dan penemuan batuan yang ditemukan para arkeolog. Terdapat pula peninggalan kerajinan asli Betawi (Batavia) seperti dapur khas Betawi tempo dulu





  • Lantai dua : Terdapat perabotan peninggalan para bangsa Belanda mulai dari tempat tidur dan lukisan-lukisan, lengkap dengan jendela besar yang menghadap alun-alun. Konon, jendela besar inilah yang digunakan untuk melihat hukuman mati para tahanan yang dilakukan di tengah alun-alun.




  • Ruang bawah tanah : Yang tidak kalah penting pada bangunan ini adalah, penjara bawah tanah para tahanan yang melawan pemerintahan Belanda. Terdiri dari 5 ruangan sempit dan pengap dengan bandul besi, sebagai belenggu kaki para tahanan.

  

C.   Pembangunan dan Arsitektur Museum Fatahillah




Museum ini memiliki banyak nama, yakni Museum Batavia dan Musem Sejarah Jakarta. Terletak di Jalan Taman Fatahillah nomor 2 Jakarta Barat, gedung ini awalnya dibandung sebagai sebuah balai kota atau stadhuis . Pembangunan gedung ini memakan waktu 3 tahun, yakni pada tahun 1707 - 1710. Bangunan latif ini dibangun berdasarkan perintah seorang Gubernur Jendral Belanda, Johan van Hoorn. Balai kota ini terdiri dari sebuah bangunan primer dengan dua buah bangunan sayap di sisi barat dan timurnya. Bangunan ini difungsikan sebagai kantor dan ruang pengadilan. Bangunan ini juga dilengkapi ruang bawah tanah nan merupakan penjara zaman Belanda. Baru pada tahun 1974, pemerintah Indonesia meresmikan bangunan ini sebagai museum. Bangunan megah seluas 1.300 m2 ini terdiri dari 3 lantai. Dindingnya diwarnai dengan cat berwarna kuning tanah. Ventilasi serta pintunya terbuat dari kayu jati dan berwarna hijau tua. Sebuah penunjuk arah mata angin bertengger manis di bagian atap utamanya. Di sisi bangunan, terdapat kolam dan beberapa pohon tua di sekelilingnya. Dari segi arsitektur, museum ini sangat mencerminkan gaya arsitektur Belanda di abad ke-17. Konon, gedung ini memang dibangun dengan desain menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda sana.

D.   Koleksi Museum Fatahillah

Setelah berubah fungsi menjadi museum, gedung ini dipenuhi berbagai koleksi benda bersejarah; terutama benda-benda peninggalan nan terkait dengan sejarah Jakarta. Nama "Fatahillah" sendiri diambil dari nama seorang pejuang pendirian kota Jakarta. Ia berperan dalam mengusir Portugis dari tanah Sunda Kelapa. Selain arsitektur bangunan nan latif dan klasik, museum Fatahillah juga memiliki beberapa koleksi menarik lainnya seperti keramik dan mebel kuno mulai dari abad ke-17 sampai 19. Bagi Anda nan sangat berminat dengan desain interior mengunjungi museum ini akan memberikan kesan tersendiri dengan melihat desain-desain di era abad ke 17. Desain interior tersebut berupa perpaduan latif antara kebudayaan Eropa, Cina, dan Batavia.

Di museum bersejarah ini, Anda juga dapat melihat perjalanan sejarah Jakarta nan dulu disebut dengan nama Batavia, kemudian replika peninggalan masa Pajajaran dan Tarumanegara nan terpajang di ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Jayakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah, dan Ruang MH. Thamrin. Anda juga dapat menelusuri koleksi kebudayaan Betawi dan sejarah becak dari masa ke masa. Jika Anda ingin melihat seperti apa bentuk penjara bawah tanah nan ada saat zaman penjajahan Belanda, Anda dapat menemukannya di Museum Fatahillah, beserta meriam si Jagur nan terkenal itu dan ada juga patung Dewa Hermes nan dulu terletak di perematan Harmoni Jakarta. Berdasarkan mitologi Yunani, Dewa Hermes ialah Dewa konservasi dan keberuntungan bagi kaum pedagang.

 

Museum Fatahilah juga memiliki beberapa program menarik lainnya seperti kegiatan Batavia Art Festival nan diadakan setiap bulan Juni dalam rangka HUT kota Jakarta. Selain itu, ada berbagai festival budaya nan sering dilakukan juga di museum ini. Jadi sangat sayang jika Anda tak menyempatkan waktu liburan Anda buat mengunjungi Museum Fatahillah di Jakarta Barat ini. Museum Fatahillah memiliki koleksi artefak sekitar 100.000, dengan sekira 26.000 item. Benda bersejarah di museum Fatahillah ini ialah peninggalan zaman Belanda, baik nan berasal dari sumbangan/hibah pecinta benda antik atau juga nan diperoleh dengan cara pembelian. 


No comments:

Post a Comment